Mengenal Terapi Resinkronisasi Jantung, Cara Pasien Gagal Jantung untuk Bisa Hidup Normal

 


Kematian akibat gagal jantung dan aritmia jadi salah satu yang tertinggi di Indonesia. Agar bisa kembali normal perlu menjalani pengobatan Cardiac Resynchronization Therapy (CRT) atau terapi resinkronisasi jantung, apa itu?

Gagal jantung adalah kondisi sindrom klinis yang menyebabkan jantung tidak bisa memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Kondisi ini menyebabkan gejala seperti sesak napas, lemas, hingga pembengkakan di area kaki akibat bendungan karena kekuatan pompa jantung menurun.

"Sebanyak 30% kasus gagal jantung mengalami irama pada ventrikel kanan dan ventrikel kiri (aritmia). Sehingga kontraksi kedua ventrikel tersebut tidak selaras dan kerja pompa jantung menjadi tidak efektif," jelas Konsultan Intervensi Jantung dan Aritmia Eka Hospital BSD, dr. Simon Salim, Sp.PD-KKV melalui keterangan yang diterima suara.com, Sabtu (10/6/2023).

Terapi resinkronisasi jantung adalah metode baru untuk mengatasi mengatasi permasalahan bilik jantung yang tidak dapat berkontraksi dengan baik. Terapi digunakan untuk menurunkan risiko terkena gagal jantung.

"Penggunaan CRT dilakukan untuk membantu meningkatkan irama jantung dan gejala yang terkait dengan aritmia," ungkap dr. Simon.

Cara kerja CRT bekerja dengan mengirimkan sinyal listrik ke kedua bilik bawah jantung (ventrikel kanan dan kiri). Kemudian alat akan memicu ventrikel untuk berkontraksi dengan cara yang lebih terkoordinasi, sehingga meningkatkan pemompaan darah keluar dari jantung.

Pasien yang membutuhkan CRT yaitu pasien yang alami gangguan irama jantung, dan pasien yang diduga berisiko alami gagal jantung. Apalagi saat alami gagal jantung, otot akan melemah dan tidak bisa memompa darah yang cukup.

Sebelum alat CRT dipasang, berikut ini beberapa pertimbangan dokter:

  • Memiliki gejala gagal jantung sedang hingga berat.
  • Ruang pompa (ventrikel) jantung tidak bekerja dengan sinkron.
  • Hasil tes menunjukkan jantung semakin melemah dan membesar.
  • Tidak adanya pengaruh yang terlihat dari obat-obatan dan perubahan gaya hidup dalam mengendalikan risiko gagal jantung.

Prosedur pasang CRT dilakukan lewat operasi, dan umumnya dokter akan meminta pasien menghindari makanan dan minuman tertentu. Prosedur operasi biasanya berjalan 30 hingga 90 menit, tergantung respon tubuh saat operasi berlangsung.

Pemasangan CRT akan dimulai dengan memberi sayatan kecil di dekat tulang selangka untuk menaruh selang kateter untuk pemasangan alat CRT. Alat akan dimasukan ke dalam jantung melalui pembuluh darah dengan bantuan panduan dari mesin sinar-X.

"Setelah pemasangan baterai selesai, dokter akan menguji alat dengan mengirimkan impuls listrik. Jika alat bekerja dengan baik, dokter akan melanjutkan dengan menempatkan alat pacu jantung CRT ke dalam tubuh Anda dan menghubungkannya dengan kateter yang sudah ditempatkan sebelumnya," tutup dr. Simon.

Sumber: Suara

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama