Vaksin Tak Perlu Disuntik, Cukup Ditempel seperti Koyo


Ada yang menangis dan menjerit sekuatnya. Ada yang lari tunggang langgang. Ada pula yang sampai naik ke atap kelas.

Banyak sekali ragam ekspresi ketakutan anak-anak akibat takut disuntik, yang videonya beredar luas selama ini. Tapi jangan salah, yang bapak-bapak, bahkan tentara atau polisi, ada yang sama fobianya dengan injeksi ketika disuntik vaksin.Persoalannya memang di jarum suntik.

Kalau vaksinnya cukup ditempel, siapa saja, terutama anak-anak, tentu tak akan ketakutan.

Inovasi vaksinasi ramah anak itulah yang selama enam tahun ini diteliti dan dikembangkan oleh drg Ika Dewi Ana. Inovasi nanokarbonat apatit sebagai adjuvan vaksin, demikian dia menyebutnya, sudah masuk tahap produk prototipe. ’’Mudah-mudahan bisa segera diproduksi massal,’’ kata Ika setelah penganugerahan Habibie Prize 2022 di kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta pada 10 November lalu.

Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut merupakan satu di antara empat penerima penghargaan yang dulu bernama Habibie Award itu. Ika penerima dalam kategori ilmu kedokteran dan biologi. Tiga peneliti lain yang diganjar penganugerahan serupa adalah Prof Ocky Karna Radjasa (ilmu pengetahuan dasar), Prof Riri Fitri Sari (ilmu rekayasa), dan Naufan Noordyanto (ilmu kebudayaan).

Melalui inovasi itu, vaksinasi tak lagi dilakukan dengan injeksi atau suntikan, melainkan cukup ditempel. Seperti orang yang sedang memakai koyo. Bedanya, ini tidak panas. Material karbonat apatit itu diibaratkan sebagai kendaraan. ’’Kendaraan yang membawa vaksin masuk ke dalam tubuh,’’ ucap Ika.

Perempuan kelahiran Jogjakarta, 16 September 1968, tersebut menerangkan, material karbonat apatit itu terdiri atas beberapa unsur atau kandungan. Yakni, kalsium, fosfat, dan karbonat. Tiga unsur tersebut lantas diproses menjadi nanopartikel. Setelah itu, karbonat apatit tersebut siap digunakan sebagai adjuvan atau kendaraan vaksin untuk masuk ke dalam tubuh.

Ika mengatakan, selama ini proses vaksinasi yang disetujui FDA atau BPOM-nya Amerika Serikat adalah melalui injeksi. ’’Alhamdulillah. Setelah kami tes dan bandingkan (dengan vaksin injeksi, Red), hasilnya bagus,’’ tuturnya.

Dosen Fakultas Kedokteran Gigi UGM tersebut menuturkan, meski vaksinasi dilakukan dengan cara ditempel, hal itu tetap mampu menghasilkan respons tubuh yang bagus. Bahkan, hasil atau reaksi imun humoral dan imun seluler bereaksi dengan baik.

Secara prinsip, inovasi nanokarbonat apatit bisa digunakan untuk membawa vaksin apa pun ke dalam tubuh manusia. Termasuk vaksin Covid-19 yang ramai diperbincangkan saat ini.

Dalam mengerjakan inovasi tersebut, Ika bekerja sama dengan tim yang beranggota lima peneliti. Sejumlah tantangan pun dihadapi. Salah satunya harus mencoba sejumlah peralatan yang berbeda. Hal itu perlu dilakukan untuk menemukan formulasi yang paling efektif.

Hambatan lainnya, mencari antigen atau protein yang paling efektif digunakan. Jadi, meskipun menggunakan cara ditempel, dapat merasuk ke tubuh dengan maksimal. Sampai akhirnya antibodi seseorang bisa terbangun maksimal.

Bagi Ika, Habibie Prize adalah berkah sekaligus penyemangat. ’’Semua ini tidak lepas dari rida Allah. Semoga bisa bekerja lebih baik dengan (penghargaan) ini,’’ ujar pemilik delapan paten dan dua produk inovasi yang sudah diproduksi massal itu.

Penyerahan penghargaan Habibie Prize 2022 dipimpin Kepala BRIN Laksana Tri Handoko. Dia menyebutkan, Habibie Prize menjadi salah satu upaya untuk melanjutkan harapan dan cita-cita mantan Presiden B.J. Habibie dalam membangun sumber daya Indonesia yang unggul dan berdaya saing. Harapan itu juga sejalan dengan visi kenegaraan Presiden Jokowi. ’’Habibie menunjukkan kemampuan Indonesia untuk berinovasi dan memanfaatkan iptek buat kemajuan dan kedaulatan bangsa,’’ terangnya.

Penghargaan Habibie Prize sebelumnya dikelola Yayasan SDM-IPTEK. Kemudian, sejak 2020 berganti menjadi Habibie Prize. Dan, mulai 2022 penganugerahannya dilaksanakan oleh BRIN. ’’Semoga setelah dikelola BRIN, skala penghargaan Habibie Prize bisa lebih luas,’’ jelas Ketua Pengurus Yayasan SDM-IPTEK Prof Wardiman Djojonegoro.

Selain meriset nanokarbonat apatit, Ika juga mengerjakan membran untuk operasi tengkorak dan rahang. Sementara itu, inovasi yang sudah produksi massal adalah produk cangkok tulang Gama-CHA.

Sebelum diproduksi massal, produk tersebut harus diuji pada hewan kecil sampai besar. Produk Gama-CHA memiliki sejumlah keunggulan. Khususnya jika dibandingkan dengan bahan pengganti tulang yang selama ini beredar.

Dia menjelaskan, produk yang sebelumnya beredar di pasaran berbasis b-TCP (alfa-trikalsium fosfat) atau hidroksiapatit (HA). Menurut Ika, graft atau pengganti tulang dari bahan itu sejatinya baik, tapi memiliki kelemahan. Salah satunya, b-TCP mudah larut. Sehingga sebelum tulang terbentuk, graft yang diharapkan jadi pengganti matriks ekstraseluler pada tulang tidak ada.

Sementara itu, HA yang biasanya diproduksi dengan suhu tinggi sulit diresorpsi oleh sel osteoklas. Akibatnya, dalam tempo satu atau dua tahun setelah operasi, bila area tersebut dibuka masih akan ditemukan HA. Bukan tulang.

Di sisi lain, keunggulan Gama-CHA adalah secara klinis terbukti menjadi perancah tulang yang baik pada operasi regeneratif. Bahkan, Gama-CHA memungkinkan dokter gigi, ahli bedah mulut, dan ahli ortopedi untuk menggunakannya dalam terapi mempercepat pertumbuhan tulang yang hilang. Tanpa harus mengambil tulang pasien yang masih sehat.

Ika menambahkan, ratusan pasien sudah ditolong dengan produk yang secara komersial bernama Gama-CHA itu. ’’Sekarang sudah masuk e-katalog,’’ paparnya.

Seperti juga vaksinasi tempel yang kelak jika sudah diproduksi massal bakal banyak membantu. Jadi, tak akan ada lagi anak-anak yang lari terbirit-birit untuk menghindari vaksinasi atau imunisasi. Atau bapak-bapak tentara dan polisi yang sampai harus dipegangi kawan-kawannya, saking takutnya pada jarum suntik. []

Sumber: Jawa Pos

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama